Serpihan Kata
Berdiri, biar dapat kudengar bisikmu diantara angin...
Berdiri, biar dapat kudengar bisikmu diantara angin...
Ehem, ini adalah karya adik saya yang masih duduk di kelas 5 SD. Akhirnya dia meneladani sisi yang benar dari role model yang paling dikaguminya (baca : kakaknya, haha :P ). Saya akui, kalau sedang ‘terbakar’, dia bisa melakukan sesuatu dengan baik dalam sekejap, sebagaimana empat puisi ini, yang ditulisnya dalam waktu kurang lebih 30 menit. Entah apakah hari esok isa akan menulis puisi lagi. Yah, untuk ukuran anak SD, lumayan baguslah. :)
Bintang
Ketika malam telah datang
suasana gelap gulita
bintang datang dari langit.
Bintang kau berjumlah banyak.
Bintang aku berterimakasih kepadamu.
Jika tidak ada engkau bumi akan gelap.
Bintang kau jenisnya beda-beda
Aku selalu ketemu kau di langit
Dan melihatmu di saat malam datang.
Buku
Ketika bangun tidur
suasana terang
di meja ada buku.
Buku kau sang sumber ilmu
Buku aku akan selalu membacamu
kau yang menemani aku waktu membaca.
Buku aku berterimakasih kepadamu.
Jika tidak ada engkau aku akan bodoh
maka itu aku membacamu agar pandai dan bisa meraih juara.
Matahari
Ketika pagi telah datang
suasana terang benderang
matahari terbit dari timur.
Matahari kau menerangi bumi dari pagi sampai sore
dan terbenam ke arah barat
dan bumi menjadi gelap gulita.
Matahari kau juga bisa membantu hidup manusia
seperti mengeringkan padi, ikan, dan baju
matahari aku sangat berterimakasih kepadamu
karena juga membantu hidup manusia.
Guruku
Pagi hari telah datang
aku bersiap siap berangkat sekolah
di sekolah aku diajari oleh guru.
Guru aku berterimakasih kepadamu
karena aku bisa pandai kau ajari
dan menemaniku ketika sekolah
dan siang hari aku pulang.
Guru kita ketemu lagi besok
dan aku pelajari ilmu guru.
***
Titik kenapa titik bernama titik?
Dan hujan pun berbunyi tik.tik.tik
Bahkan, jam terdiri dari berdetik-detik.
Apakah itik bisa mengisi titik-titik?
Jangan gila, pasti tak bisa. Titik.
TA,290112 12:20
Aku tengah membaca nyala api di perapian yang bergejolak meluluhlantakkan lembaran aksara yang tak pernah tertulis. Apakah itu cerita yang dulu kau bisikkan kepada angin tentang warna yang tak kau akui keberadaanya? yang selalu membakarmu di tengah tiadanya matahri? Apakah itu candu yang kau sembunyikan? yang selalu memercikkan bara api di matamu. Rindukah?
Demi detik yang menua satu setengah abad, aku memang tak bisa memaca jelas gemetarnya aksaramu dalam api ini. Kamu, aku takkan pernah tahu, kan? Karena tak ada bedanya antara kmu dan aku. Karena kamu adalah aku dalam ceritaku.
Aku tengah membaca aksaramu di perapian. Bersama waktu dan kenangan. Katamu, kataku telah menjadi abu. Selamat tinggal.
Tulungagung, 27 Januari 2012
08:00
Blog ini milik seseorang yang manurut saya, gaya penulisan sajaknya, MENGHANYUTKAN. !
Ini adalah salah satu kutipan sajaknya..
Mausoleum Ibu
Ia menyuratimu sebagai pengganti waktu yang terpotong di akhir
pekan. kita dihabisi cerita tentang wanita pada lingkar perut. lantas
perempuan tua di ujung trotoar itu akan menyala: apakah bukan
wanita jika tak ada bayi dalam tubuhnya! demi mengabadikan kota
yang pejal, debu terbang dari berpasang-pasang sandal ke wajah.
putaran alat jahit itu hendak membalap roda-roda peot bus antarkota.
ia baru saja menyelesaikan pagimu. berkata bahwa sekolah adalah
pintu sorga. ia terasa seperti ibu.
seperti.
A cool blog ever. Anak Indonesia harus baca! :D
Semalam aku bersumpah pula, kuangkat sumpah
demi hidup-MU.
Bahwa aku takkan memalingkan mataku
dari wajah-MU; bila Kau memukul dengan pedang, aku takkan
berpaling dari-MU.
Aku takkan mencari sembuh dari yang lain, karena
kepedihanku ialah lantaran perpisahan dengan -MU.
Bila Kau mesti melemparkan aku ku dalam api, aku
bukan mukmin bila aku mengeluh.
Aku bangkit dari jalan-MU bagai debu; kini aku
kembali ke debu jalan-MU.
-Jalalu’ddin Rumi dalam “Kasidah Cinta”